Home Jawa Timur Kapolres Malang dan 9 Komandan Brimob Dicopot

Kapolres Malang dan 9 Komandan Brimob Dicopot

8 min read
0
0
17

Jakarta (MPN) – Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat dicopot imbas tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur (Jatim). Selain Kapolres, sejumlah perwira Satuan Brimob Polda Jatim dicopot.

“Melakukan penonaktifan jabatan Danyon (komandan batalyon), Dankie (komandan kompi), dan Danton (komandan pleton) Brimob sebanyak 9 orang,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo dalam konferensi pers di Polres Malang, Jawa Timur, Senin (3/10/2022).

Dedi menyebut Propam masih melakukan pemeriksaan internal hingga malam ini. “Semuanya masih dalam proses pemeriksaan oleh tim malam hari ini,” imbuh dia.

Berikut 9 anggota Brimob Polda Jatim, termasuk sejumlah perwira, yang dicopot imbas tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 125 orang:

-AKBP Agus Waluyo SIK (danyon)

-AKP Hasdarman (dankie)

-Aiptu Solikin (danton)

-Aiptu Samsul (danton)

-Aiptu Ari Dwiyanto (danton)

-AKP Untung (dankie)

-AKP Danang (danton)

-AKP Nanang (danton)

-Aiptu Budi (danton).

Sebelumnya Dedi mengumumkan keputusan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mencopot Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat. Pencopotan jabatan kapolres itu buntut tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang.

“Menonaktifkan sekaligus mengganti Kapolres Malang,” kata Irjen Dedi.

Seperti diketahui, kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, terjadi usai pertandingan Arema FC vs Persebaya, Sabtu (1/10) malam. Dalam pertandingan ini, Arema kalah 3-2 dari Persebaya.

Insiden disebut bermula saat beberapa suporter Arema memasuki lapangan usai pertandingan tersebut. Tak beberapa lama, ratusan Aremania memenuhi lapangan Kanjuruhan.

Mereka mendatangi para pemain. Beberapa ada yang melayangkan protes hingga memeluk pemain. Polisi lantas mengadang para suporter itu. Pihak keamanan juga menggiring para pemain masuk ke ruang ganti.

Namun, polisi tiba-tiba menembakkan gas air mata untuk membubarkan suporter yang masuk ke lapangan. Gas air mata itu tak hanya ditembakkan ke lapangan, tetapi juga ke arah tribun penonton yang kemudian memicu kepanikan suporter.

Berdasarkan data terbaru, insiden ini menyebabkan 125 orang meninggal dunia, korban luka berat 21 orang, dan luka ringan 304 orang.

Sejauh ini, tim dari Mabes Polri, yakni Itsus serta Propam tengah memeriksa 18 anggota yang diduga bertanggung jawab dalam penembakan gas air mata di Stadion Kanjuruhan.

Selain itu, tim investigasi Polri juga memeriksa beberapa saksi dan pejabat terkait yang berwenang atas penyelenggaraan pertandingan Liga 1 antara Arema FC dan Persebaya. Di antaranya, Direktur LIB, Ketua PSSI Jawa Timur, Ketua Panitia Penyelenggara dari Arema, hingga Kadispora Provinsi Jawa Timur.

Sorotan Dunia

Tragedi maut di Stadion Kanjuruhan, Malang, menjadi sorotan media-media internasional. Terutama soal penggunaan gas air mata oleh personel kepolisian yang merespons situasi rusuh di dalam stadion pada 1 Oktober kemarin.

Seperti dirangkum redaksi, Senin (3/10/2022), salah satu media terkemuka Amerika Serikat (AS), The Washington Post, menyoroti soal penggunaan gas air mata dalam artikelnya berjudul ‘Tear gas use by Indonesian police questioned in wake of mass fatality soccer tragedy’.

“Sejumlah saksi mata menuturkan kepada The Washington Post bahwa personel keamanan menembakkan gas air mata secara langsung dan tanpa pandang bulu ke arah kerumunan orang,” tulis The Washington Post dalam artikelnya tersebut.

The Washington Post juga mengutip pernyataan Kapolda Jawa Timur (Jatim) Irjen Nico Afinta yang mengonfirmasi bahwa polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa.

“Pedoman yang ditetapkan oleh FIFA — badan pengatur sepakbola internasional — secara khusus mengecualikan penggunaan ‘gas pengendali massal’,” sebut artikel The Washington Post itu.

Media terkemuka AS lainnya, New York Times (NYT), dalam artikelnya berjudul ‘Fans Fled as Police Fired Tear Gas, Causing Deadly Rush For Exits’ juga mengulas soal penggunaan gas air mata dalam tragedi Stadion Kanjuruhan yang menjadi pemberitaan global tersebut.

“Penggemar sepakbola di Indonesia bergegas ke lapangan setelah sebuah pertandingan sepakbola profesional pada Sabtu (1/10) malam, mendorong polisi untuk menembakkan gas air mata ke kerumunan yang padat dan memicu desak-desakan yang menewaskan sedikitnya 125 orang, kata para pejabat setempat,” tulis NYT.

“Organisasi-organisasi hak asasi manusia mengecam penggunaan gas air mata, yang dilarang oleh FIFA, badan pengatur sepakbola. Para saksi mata mengatakan bahwa gas beberapa kali ditembakkan tanpa pandang bulu ke tribun penonton, yang memaksa kerumunan yang kelebihan kapasitas untuk bergegas ke pintu keluar,” imbuh NYT dalam artikelnya.

Ulasan soal tragedi Kanjuruhan dan penggunaan gas air mata oleh polisi juga dibahas media-media internasional lainnya, seperti The Guardian, Sky News, dan NBC News.

“Polisi dan penyelenggara pertandingan disoroti setelah polisi menembakkan gas air mata merespons penggemar yang rusuh,” tulis media Inggris, The Guardian dalam artikelnya berjudul ‘125 dead after crowd crush at Indonesian football match’.

“Sedikitnya 125 orang tewas dalam kerusuhan saat pertandingan sepakbola di Indonesia, yang sebagian besar tewas terinjak-injak setelah polisi menembakkan gas air mata, dalam salah satu bencana olahraga terburuk di dunia,” demikian Sky News mengawali artikelnya berjudul ‘Indonesia football disaster: At least 125 killed after riot and stampede at match as tear gas fired’.

“Perhatian dengan segera terfokus pada penggunaan gas air mata oleh polisi, yang dilarang di stadion sepakbola oleh FIFA, badan pengatur sepakbola dunia, yang menyebut insiden itu ‘tragedi di luar pemahaman’,” tulis NBC News dalam artikelnya berjudul ‘Stampede triggered by tear gas leaves 125 dead after Indonesia soccer match‘.(det/mer/adm)

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Bupati Sidoarjo Berpeluang Jadi Tersangka Pemotongan Dana ASN

Bupati Sidoarjo …