Home Jawa Timur 01-Kediri Patriotisme dan Nasionalisme Hal Penting dalam Bela Negara

Patriotisme dan Nasionalisme Hal Penting dalam Bela Negara

12 min read
0
5
78

Kediri (MPN) – Merdeka dan Berjuang. Bela Negara adalah kewajiban setiap Warga Negara. Memperjuangkan kemerdekaan di masa lalu dan mempertahankan kemerdekaan di masa kini merupakan aplikasi peran yang berbeda. Maka itu, demi memajukan dan turut mensejahterakan masyarakat, setiap generasi kini harus mampu menterjemahkan dan menerapkan berbagai upaya keras untuk Bela Negara. “Setiap Warga Negara berkewajiban menjalankan Bela Negara, meski saat ini kondisinya berbeda peran dengan para pahlawan di masa kemerdekaan,” kata Yuli Marwantoko SE, Kepala Bakesbangpol Kabupaten Kediri, saat membuka Sarasehan Wawasan Kebangsaan Bela Negara Masa Kini, di Aula Kecamatan Puncu, selasa pagi (14/3).

Menurut Yuli, dalam keadaan bagaimanapun, setiap warga Negara itu harus melaksanakan Bela Negara, karena disamping telah diamanatkan dalam UUD 1945 pasal 27 ayat 3, juga keberlangsungan NKRI ini merupakan tanggung jawab kita bersama sebagai warga Negara. Dikatakan, kalau dulu di masa perjuangan Kemerdekaan, para pahlawan itu membela Negara dengan mengangkat senjata melawan musuh, kini perannya berbeda yaitu dengan bekerja keras, belajar, berprestasi hingga tingkat dunia, saling bekerjasama membangun bangsa dan sebagainya. “Bahkan, menggunakan haknya dalam pemilu juga termasuk bela negara, karena pilihan itu akan menentukan arah dan langkah Bangsa dan Negara ke depan,” ujarnya.

Aniek Puspitowati, Anggota DPRD Kabupaten Kediri dari Fraksi PDI Perjuangan sebagai salah satu Nara Sumber dalam Saresehan Wawasan Kebangsaan Bela Negara Masa Kini di Aula Kecamatan Puncu, selasa (14/3).

Sebagai nara sumber dalam acara itu adalah Pendiwan ST dan Aniek Puspitowati dari Fraksi PDI Perjuangan, serta Hadi Subagiya SH, MH, Plt Camat Puncu.

Bela Negara merupakan kewajiban setiap warga Negara. Hal itu berdasarkan pasal 27 ayat 3 yang menyebutkan setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara. Ayat tersebut menegaskan tentang keikutsertaan warga negara terhadap upaya pembelaan negara.

Pendiwan ST, mengemukakan betapa pentingnya memahami sejarah bahwa para pahlawan begitu gigih hingga berkorban nyawa demi merengkuh Indonesia Merdeka dari penjajah. Refleksi Cinta pada Negara. Musuh begitu nyata secara fisik. Namun, saat ini tidak nyata, musuh begitu banyak, termasuk budaya dari luar yang terus menggerus, merongrong dan mempengaruhi kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara. Sehingga, itu tak jarang para pemuda dan masyarakat kita terpengaruh. “Maka itu, kita wajib bela Negara dari rongrongan budaya, ekonomi maupun pengaruh negatif dari budaya dari luar itu,” urai Ketua Fraksi PDI Perjuangan ini mengingatkan agar masyarakat kita selalu menguri-uri budaya leluhur Bangsa Indonesia yang santun dan penuh makna etika. Berbudi Pekerti tinggi.

Patriotisme dan Nasionalisme

Sementara itu nara sumber kedua, Aniek Puspitowati, menerangkan bahwa para pendahulu kita dulu, meninggalkan keluarga untuk berjuang menerjang peluru menghadapi musuh penjajah. Betapa gigih, hingga rela mengorbankan nyawa demi negeri ini. Namun kini, peran kita sangat berbeda. Globlalisasi dan reformasi dunia menuntut kita berjuang keras, untuk memajukan dan Bangsa dan Negara melalui peningkatan  kesejahteraan ekonomi, menegakkan kedaulatan Negara, hingga berprestasi demi mengharumkan nama Bangsa dan Negara di tingkat Internasional.

Anggota DPRD Kabupaten Kediri yang menjabat 2 Periode ini, merinci berdasar sejarah tentang kategori penerapan yaitu yaitu perjuangan fisik dan perjuangan diplomasi. Pertempuran 10 November 1945, Pertempuran Ambarawa, Bandung Lautan Api, hingga Pertempuran menghadapi Agresi Militer Belanda, adalah manifestasi perjuangan para pahlawan itu secara fisik. Sedangkan, Perjuangan diplomasi dilakukan para tokoh pendahulu itu seperti dalam perjanjian Linggarjati, Konferensi Meja Bundar, Perjanjian Renville dan sebagainya. “Peran mereka para pahlawan itu adalah aplikasi nyata dalam Bela Negara yang tak bisa kita pungkiri,” seru Aniek menukas.

Namun, lanjut Aniek Puspitowati wakil rakyat dapil Kandangan Kepung Puncu, di masa kini makna Bela Negara itu menjadi berubah, dengan menerapkan perjuangan sesuai dengan era reformasi dan globalisasi dunia nyata. “Patriotisme dan Nasionalisme harus menjiwai setiap warga Negara untuk Bela Negara,” ujarnya menekankan kedua hal itu sangat penting dalam upaya Bela Negara.

Patriotisme adalah ekspresi, perasaan cinta tanah air, perasaan bangga, pengabdian, dan keterikatan pada tanah air, serta perasaan keterikatan dengan warga patriotik lainnya. Hal ini didasarkan faktor-faktor seperti ras atau etnis, budaya, keyakinan agama, sejarah. Aniek mengutarakan banyak cara untuk menunjukkan patriotisme yaitu mempertahankan Ideologi Pancasila, menyanyikan Lagu Kebangsaan dan melafalkan Dasar Negara di acara besar tertentu merupakan hal yang umum.

Para Peserta dan Nara Sumber dalam acara Saresehan Wawasan Kebangsaan Bela Negara Masa Kini, di Aula Kecamatan Puncu , selasa pagi (14/3).

Selain itu patriotisme dapat dilakukan dengan berbagai langkah kongkret kekinian, seperti, Berpartisipasi dalam demokrasi perwakilan dengan mendaftar untuk memilih dan memberikan suara dalam pemilihan umum; Menjadi sukarelawan untuk pelayanan masyarakat atau mencalonkan diri untuk jabatan pemerintahan terpilih;  Mematuhi semua hukum dan membayar pajak; Memahami hak, kebebasan, dan tanggung jawab yang terkandung dalam Konstitusi Republik Indonesia.

Sedangkan Nasionalisme yaitu paham kebangsaan yang mengandung makna kesadaran dan semangat cinta tanah air, memiliki kebanggaan sebagai bangsa, atau memelihara kehormatan bangsa, memiliki rasa solidaritas terhadap musibah dan kekurang beruntungan saudara setanah air, sebangsa dan senegara persatuan dan kesatuan. Beberapa contoh sikap nasionalime yang bisa dilakukan: Selalu memakai dan mendukung produk dalam negeri; Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa; Bangga sebagai warga negara Indonesia; Menjaga nama baik bangsa.

“Sikap-sikap seperti tidak mencermintan Bela Negara dan harus dijauhi,dan dijauhi, seperti egois, ekstrim, teror, dan primordial atau mementingkan suku agama ras dan golongan sendiri” papar Aniek sebagai Anggota Badan Anggaran DPRD Kabupaten Kediri itu.

Maka itu, peran serta setiap warga negara untuk Bela Negara yang harus dilakukan di masa kini adalah pertama, Jaga wilayah dan kekayaan tanah air Indonesia. Kedua, Menciptakan ketahanan nasional, ketiga, menghormati perbedaan suku, agama dan ras. Keempat, Mempertahankan kesamaan dan kebersamaan, kelima, memiliki semangat persatuan yang berwawasan nusantara. Keenam, mentaati peraturan agar kehidupan berbangsa dan bernegara berjalan tertib dan aman.”Bila kita sebagai warga bangsa, mampu menjaga kerukunan dan meningkatkan kebersamaan itu akan terasa Indah Sekali,” ujar Aniek menyebut kerukunan antar umat beragama, antar suku, antar budaya, serta saling menghormati merupakan dasar kehidupan dalam perdamaian dan keeindahan.

Tantangan

Sementara itu Plt Camat Puncu Hadi Subagiya SH, MH, sebagai nara sumber ketiga, menyebutkan tantangan generasi sekarang dan akan datang dalam aplikasi Bela Negara ini. Setiap warga Negara harus mempunyai tekad dan semangat tinggi demi Cinta pada Negara. Memahami sejarah, serta menerapkan langkah positif dalam sendi-sendi kehidupan berbegara, tanpa terkecuali, dalam berbangsa dan bernegara harus mengutamakan kepentingan bersama dari pada egoism pribadi, memelihara kerukunan, keamanan, mengentaskan kemiskinan, serta berbudaya dengan Budi Pekerti.

Ditekankan, manifestasi Bela Negara meliputi Pendidikan, Pelatihan Dasar Militer, Pengabdian sebagai prajurit sukarela, serta Pengabdian Profesi. “Berbagai upaya positif dan kerja keras itu merupakan wujud dalam menerapkan Bela Negara. Tentu saja perjuangan itu harus disertai Doa,” pungkas Hadi Subagiya menyemangati semuanya.

Hadir dalam Acara Sosialisasi Wawasan Kebangsaan Masa Kini di Puncu itu Aniek Puspitowati dan Pendiwan ST dari Anggota DPRD Kabupaten Kediri dari Fraksi PDI Perjuangan, Kepala Bakesbangpol Kabupaten Kediri Yuli, Plt Camat Puncu Hadi Subagiya SH, MH, serta 60 warga masyarakat dan pemuda dari Kecamatan Puncu dan sekitarnya..– (Ajie) –

Load More Related Articles
Load More By Aji Suharmaji
Load More In 01-Kediri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Pertahankan Martabat Kepengurusan HPK

Malang (MPN) – Berjatidiri Eksis. Himpunan Penghayat Kepercayaan (HPK) Terhadap Tuha…