Home Jawa Timur 01-Kediri Melasti Prosesi Pensucian Diri Menuju Nyepi di Waduk Siman Kepung Kediri

Melasti Prosesi Pensucian Diri Menuju Nyepi di Waduk Siman Kepung Kediri

10 min read
0
3
158

Kediri (MPN) – Khidmat Suci. Ritual Melasti atau pensucian diri, menjelang upacara Nyepi menuju Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, dilaksanakan secara khidmat di Waduk Siman Kepung Kediri, minggu pagi (19/3). “Makna Melasti adalah upacara pembersihan Bhuwana Agung atau jagat raya, dan Bhuwana Alit, dari diri sendiri atau alam semesta. Dilaksanakan di sumber penghidupan, bertujuan untuk mencari air kehidupan, Tirta Amerta,.sebagai materi untuk menyucikan diri menuju Nyepi,” tukas Murtadji SPd, MPd.H, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Kediri.

Menurut Murtadji, ritual melasti adalah sebuah upacara yang dilakukan untuk menyucikan diri sebelum masuk Hari Suci Nyepi. Hal ini dilakukan dengan menghanyutkan kotoran alam dengan menggunakan air kehidupan. Upacara Melasti dilakukan di Tirta Amerta atau sumber air penghidupan seperti, pinggir laut, atau danau. Khusus Wilayah Kabupaten Kediri, di Waduk Siman Kecamatan Kepung. Masyakarakat Hindu, membasuh muka atau menyentuh air sebagai simbol membuang karma buruk. Saat upacara berlangsung, umat Hindu membawa peralatan suci dan sesajen. Sedangkan Pelaksanaan Melasti ini pada Panglong 13 bulan Ciatra (Sasih Kesanga) atau tiga hari sebelum Hari Raya Nyepi.

Kirab Pratima dan pelinggih umat Hindu Kabupaten Kediri di acara melasti di Waduk Siman Kepung Kediri, minggu pagi (19/3).

Dikatakan, dipilihnya danau waduk siman sebagai upacara melasti bagi Umat Hindu Kabupaten Kediri, karena tempat ini merupakan sumber penghidupan bagi masyarakat melalui irigasi dan pertanian. Disamping itu telah sesuai anjuran dalam Kitab Suci Veda bahwa yang termasuk air suci untuk Melasti adalah campuhan, air laut, air danau dan seterusnya. “Lokasi air suci ini diyakini oleh umat Hindu, sebagai air kehidupan atau Tirta Amerta, sumber pembersih segala kekotoran, sarwa mala,” ujar Murtadji.

Kemudian, lanjutnya, mengusung pralingga/pelinggih dan pratima, serta perlengkapan Bathara batahari ke Waduk untuk disucikan. Sebab pralingga dan pratima ini diyakini umat Hindu sebagai lambang atau simbol para dewa-dewi. Serta sebagai ekspresi jiwa/batin para tentang eksistensi Tuhan Yang Maha Esa. Pralingga dan pratima adalah wadah, media untuk mengadakan hubungan dengan Ida Hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa. Pratima berbentuk sebagai manusia, sedangkan Pralingga bentuk sebagai binatang.

Demikian pula, tambahnya, umat Hindu se Kabupaten Kediri ini juga membawa sesaji atau banten dan alat persembahyangan ke area Waduk Siman. Sesaji diyakini sebagai wujud persembahan kepada-Nya serta dipercaya sebagai manifestasi dewa tertinggi yaitu ‘Tri Murti’ meliputi Bhatara Brahma, Bhatara Wisnu, dan Bhatara Siwa.

Ketua WHDI Kabupaten Kediri, Murtadji MPd.H dalam acara Ritual Melasti di Waduk Siman Kepung Kediri, minggu (19/3).

“Sesuai lontar Sundarigama dan lontar Sang Hyang Aji Swamandala, bahwa Melasti itu merupakan wujud peningkatan sradha bhakti para umat Hindu kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan manifestasi-Nya yang sering disebut bhatara-bhatari, dengan tujuan menghilangkan kekotoran atau penderitaan,” sebut Murtadji.

Pelaksanaan melasti ini bertujuan memohon Waranugeraha atau keanugrahan, kepada Sang Hyang pencipta beserta isinya, agar alam manusia dan alam semesta mencapai keseimbangan. Sehingga terwujud keharmonisan, kerahayuan, kerahajengan, shanti dan jagadhita. Selain itu pula, menguatkan sradha bhakti para umat Hindu akan kekuatan Tuhan Yang Maha Esa. Menghanyutkan segala kekotoran diri dan sarwa mala alam semesta, juga memohon limpahan rezeki dalam mengarungi hidup dan kehidupan.

Ritual melasti ini fleksibel waktunya, bisa pagi, siang, sore tergantung pembagian wilayah yang ditentukan oleh pemerintah agar tidak terjadi kekacauan dalam melasti. Oleh karenanya, harus dalam situasi tenang agar pikiran menjadi shanti atau dama.

Maweda yang dipuput oleh Romo Ida Pandita Darmeka Shanti Kertajaya dari Bangsongan dan Romo Pandita Sridalem Wira Jagadmanik dari Sekaran Kayen Kidul (19/3).

Tirta Purwitosari

Prosesi Melasti ini dimulai dari jarak 1 km sebelah barat sebelum Waduk, dengan Kirab Pratima, pelinggih dari umat Hindu Kabupaten Kediri, disungsung atau diusung menuju Waduk dengan jalan kaki berjejer 2 sap.

Kemudian ritual Maweda atau memohon Tirta Purwitosari untuk pensucian jagad agung (Bhuana Agung) dan jagad alit (Bhuana Alit) menuju Kerahayuan Agung dumadi. Maweda dipimpin atau dipuput oleh Romo Ida Pandita Darmeka Santi Kertajaya dari Griya Argosari Desa Bangsongan, dan Romo Pandita Sridalem Wira Jagadmanik dari Desa Sekaran Kecamatan Kayen Kidul.

Ritual Sembahyangan di acara Melasti umat hidu se Kabupaten Kediri di Waduk Siman Kepung (19/3).

Sementara itu, usai ritual melasti, diadakan Larung sesaji di Waduk Siman. Larung ini merupakan persembahan atau slametan yang ditujukan kepada Sang hyang Widi Wasa, sebagai manifestasi dari Dewa Baruna, para dewa dewi, pitara pitari, serta alam semesta, demi Kerahayuan.

Sedangkan, Tirta Amerta tersebut dibawa ke Pura Kerta Bhuana di Desa Watugede, yang merupakan pusat Persembahyangan Umat Hindu Kabupaten Kediri. Kemudian Air Suci itu dilinggihkan, dipersiapkan untuk pembersihan alam, pencaruan serta tawur. Dalam upacara di Pura tersebut, ditujukan ke makhluk parabuta, guna menetralisir unsur-unsur negatif menuju kesucian di hari Nyepi. Dilanjutkan pendistribusikan, melalui mangku, untuk mensucikan Pura dan Pratima, ke semua Pura di Desa dan Kecamatan seluruh Kabupaten Kediri. Setelah itu, dilaksanakan Brata Penyepian tanggal 22 maret 2023, sehari berikutnya dilaksanakan di pura masing-masing, yaitu rembak nyalakan geni. Cerah Suci Kembali.

Larung Sesaji di Waduk Siman Kepung dalam rangkaian ritual melasti tahun 1945 saka (19/3).

Acara Melasti tahun 1945 saka ini diikuti oleh ribuan umat Hindu seluruh Kabupaten Kediri. Dihadiri pula Forkompimcam Kepung, Camat, Kapolsek Iptu Sarwo Edi SH beserta para anggotanya, Danramil Kepung beserta para anggota, Ketua PHDI Kabupaten Kediri Murtadji MPd.H dan para Ketua PHDI Kecamatan, para Ketua WHDI kecamatan, Pradah, Para Mangku se Kabupateen Kediri. Dalam pelaksanaan ritual melasti, persembahyangannya dipuput atau dipimpin oleh 2 orang Pandita yaitu Romo Ida Pandita Darmeka Santi Kertajaya dari Griya Argosari Desa Bangsongan, dan Romo Pandita Sridalem Wira Jagadmanik dari Desa Sekaran Kecamatan Kayen Kidul.

Dalam waktu malam sebelum brata penyepian, dilaksanakan Tawur Agung, dilambangkan Ogoh-ogoh, nafsu serakah / negatif dalam diri, yang diarak terus dibakar, disucikan untuk menuju Catur Brata Penyepian selama 24 jam. Dilanjutkan ritual Rembak Geni. Suci Kembali di tahun baru Saka 1945. “Urutan prosesi ritual itu menuju Kerahayuan, dari Sang Pencipta, dimana tak lepas dari kesinergian alam semesta ini,” pungkas Murtadji seraya berharap dalam menjalankan ritual keagamaan, semua umat Hindu Kabupaten Kediri tetap menjaga kondusifitas lingkungan, keamanan, ketertiban serta solidaritas ke seluruh warga masyarakat umum. Om Shanti…. Shanti Om….. – (Ajie) –

Load More Related Articles
Load More By Aji Suharmaji
Load More In 01-Kediri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Sastra Suci Utsawa Dharmagita Tingkat Provinsi Jatim 2023 di Grogol Kediri

Kediri (MPN) – Suci Prestasi. Lantunan kebenaran bersumber dari Kitab Suci Weda dala…