Home Jawa Timur 01-Kediri Ogoh-Ogoh Buto Kala Refleksi Kejahatan di Ritual Malam Tawur Agung Banaran Medowo

Ogoh-Ogoh Buto Kala Refleksi Kejahatan di Ritual Malam Tawur Agung Banaran Medowo

9 min read
0
4
156

Kediri (MPN) – Suci Anugrah. Malam Tawur Agung Kesanga digelar di Desa Banaran dan Desa Medowo Kandangan Kediri, selasa malam (21/3). Refleksi kejahatan Ogoh-Ogoh Buto Kala penculitan diarak menyusuri jalanan berkilo-kilo hingga berakhir dibakar, lambang memerangi kejahatan di diri sendiri dalam kehidupan. “Ini merupakan rangkaian ritual mulai melasti hingga Brata Penyepian, Tawur Agung Kesanga merupakan upacara pembersihan Bhuwana Agung atau jagat raya, Bhuana Alit baik dari diri sendiri atau alam semesta, paling utama adalah pensucian diri sendiri dari keangkara-murkaan dalam kehidupan sebagai umat manusia, untuk memohon kerahayuan, keanugrahan dari Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa,” papar Yuliono, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Kandangan, di Desa Medowo Kandangan.

Kapolsek Kandangan Iptu Wahyu Hariadi SH, dalam sambutan pemberangkatan Karnaval Ogoh-Ogoh dalam Tawur Agung Kesanga di Desa Medowo, didampingi Ketua Kristen Pendeta Richart Patinasarani, Ketua Walaka Sunarko MPd.H, Gus Ali Nasuchan SPd.I Ketua FKUB, dan Tokoh Hindu Medowo, selasa malam (21/3)

Menurut Yuli, Ritual Tawur Agung Kesanga 2023 di Desa Banaran dan Medowo ini diawali dengan Pembacaan Kitab Suci Weda oleh para mangku, doa, kemudian diaraknya Ogoh-Ogoh Buto Kala menyusuri jalan-jalan utama Desa yang telah ditentukan, yang telah dipenuhi warga untuk menonton arakan itu. Dan diakhiri pembakaran Ogoh-Ogoh tersebut sebagai simbol hangusnya kejahatan, energi negatif dalam diri manusia, menuju kesucian berenergi positif, kebaikan, kebijaksanaan dan kesucian hati.

“Hari suci ini bagi umat Hindu,  mengisyaratkan untuk mulat sarira dan pengendalian diri. Ini menandakan bahwa kita diingatkan oleh penguasa semesta untuk selalu menjaga perilaku agar tetap terkendali sesuai ajaran agama Hindu dalam Kitab Suci Weda,” kata Sunarko MPd.H, Ketua Walaka Kecamatan Kandangan, saat memberikan wejangan pada Tawur Agung Kesanga di Desa Medowo. 

Lambang Kejahatan diterjemahkan dalam Ogoh-Ogoh berbentuk Buto Kala, Babi Ngepet yang mencak-mencak di setiap perjalanan menuju akhir pembakaran tersebut, merupakan lambang sifat jelek, bengis, egois, sombong, serta energi negatif dalam diri manusia harus dihilangkan, dibakar habis, hingga suci dalam diri manusia menuju keanugerahan dari Sang Pencipta Alam Semesta, Tuhan Yang Maha Esa.

Buto Kala yang besar mengerikan di Desa Banaran, diarak melalui jalan protokol mulai Lapangan Lodenan melewati Pura Giri Natha ke barat hingga ujung dusun Putuk dan kembali ke Pura dan dibakar, selasa malam (21/3).

Di Desa Banaran, terdapat 2 Ogoh-Ogoh bentuk Raksasa Hitam Pekat dengan rambut panjang semrawut dan bermata Api menyala. Diarak seraya diiringi musik keras tradisional, mulai dari Lapangan Lodenan, melewati Balai Desa menuju ujung kulon Dusun Putuk, dan kembali ke timur hingga finish di Pura Giri Natha. Dan Dibakar.

Makna Pengingat Diri

Sambutan masyarakat yang nonton sangat antusias. Disamping sebagai makna unsur pengingat dalam diri sifat manusia energi negatif yang harus dimusnahkan, Ogoh-Ogoh ini proses pembuatannya merupakan refleksi karya seni manusia yang diapresiasi sebagai warisan leluhur. Maka itu, tak heran, bila di Desa Banaran, dan Desa Medowo ini gelar Ogoh-Ogoh setiap tahun ditunggu kemunculannya oleh masyarakat. Indah dan ramai bak Karnaval Malam Hari yang penuh Misteri. Nightmare Carnival.

Sementara itu, di Desa Medowo lebih seru lagi. Ogoh-Ogoh berjumlah 8 Buto Kala dan Babi Ngepet  itu selalu pethalitan mencak-mencak di sepanjang jalan, mulai dari pemukiman ujung Gunung timur Dusun Mulyorejo, tepat di Pura Whisnu Murthi, melewati Sengkan, Seloparang, Medowo, Badung, hingga finish di Pertigaan singkil pintu masuk Desa Medowo sebelah barat. Bahkan, luapan dentuman musik sound yang keras memekakkan telinga, di setiap keramaian dan pertigaan perempatan sepanjang jalan 4 km, Ogoh-Ogoh itu beratraksi melingkar dan Bedigasan. Sementara, para mangku di mobil depannya sebagai pembuka jalan, selalu berpetuah agar sebagai umat manusia selalu wawas diri dan mensucikan diri dari sifat-sifat jahat menjadi baik, adil, bijaksana dalam kehidupan.

Partisipasi Umat Hindu Dharma Bhakti Jaya Dusun Sidorejo Medowo dalam Upacara Tawur Agung Kesanga di Desa Medowo selasa malam (21/3).

Para penonton. Ribuan masyarakat yang berjubel di sepangjang jalan, tampak asyik menikmati tontonan karya seni bermakna religi ini. Masyarakat Medowo dan daerah sekitarnnya dari wilayah Bareng dan Wonosalam Jombang juga larut, menikmati unjuk seni, sebuah lambang religi, dari umat Hindu itu. Bahkan, sampai lewat tengah malam, masyarakat setia menunggu hingga Ogoh-Ogoh itu musnah dilahap api yang menjulang tinggi.

Kapolsek Kandangan Iptu Wahyu Hariadi SH, mengungkapkan terima kasih banyak kepada semua masyarakat yang menikmati hiburan bernuansa religi Tawur Agung Kesanga ini, hingga acara usai, berjalan lancar, tertib dan aman. “Bagi Umat Hindu, saya ucapkan Selamat Hari Raya Nyepi tahun baru saka 1945, semoga kedamaian dan keanugrahan tercipta dalam diri semua umat Hindu,” tuturnya.

Ogoh-Ogoh sebagai lambang kejahatan energi negatif, dibakar di Pertigaan Singkil pintu masuk Desa Medowo, sebagai lambang kesucian Kembali dan menuju Ritual Brata Penyepian (21/3).

Hadir dalam Acara Tawur Agung Kesanga di Medowo adalah Forkompimcam Kandangan, Kapolsek Iptu Wahyu Hariadi SH, Danramil 0809/15 Kandangan Kapten Czi Roberto Hutabarat, Camat yang diwakili Stafnya, Babinsa, Babinkamtibmas, Bati Tuud Koramil, Beberapa Anggota Koramil, Anggota Polsek, Ketua FKUB Gus Ali Nasuchan SPd.I, Pendeta Richart Patinasarani, Ketua Walaka Kandangan Sunarko MPd.H, Ketua PHDI Yuliono, WHDI Kandangan, Para Tokoh Hindu Desa Medowo Pariono dan ribuan umat Hindu dan masyarakat di sepanjang jalan Desa Medowo. Sebagai pengamanan yang terlibat dalam kegiatan ini disamping Polsek dan Koramil, adalah Para Pecalang, Pradah Hindu, juga Puluhan Banser dan Para Tokoh Perguruan Silat di Kandangan.

Untuk Umat Hindu, selamat hari Raya Nyepi tahun baru saka 1945. Suci kembali. Semerbak mewangi Abadi. Hong Wilaheng Sekaring Bawono Langgeng. – (Ajie) –

Load More Related Articles
Load More By Aji Suharmaji
Load More In 01-Kediri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Peduli Bersinergi SDN Kandangan 1 Bagi Takjil Untuk Masyarakat, Pengguna Jalan dan Bukber

Kediri (MPN) – Bermakna Sinergi. Kegiatan sosial kemanusiaan dilaksanakan SDN Kandan…