Home Hukrim Divonis Penjara Seumur Hidup, Irjen Teddy Minahasa Banding!

Divonis Penjara Seumur Hidup, Irjen Teddy Minahasa Banding!

8 min read
0
0
24

Irjen Teddy Minahasa bersama para penasihat hukum, seusai sidang.

Jakarta (MPN) – Mantan Kapolda Sumatera Barat (Sumbar) Irjen Teddy Minahasa divonis hukuman penjara seumur hidup. Hakim menyatakan, terdakwa Teddy bersalah dalam kasus narkoba, yakni menukar barang bukti sabu dengan tawas. Irjen Teddy.

“Mengadili, menyatakan terdakwa Teddy Minahasa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana,” kata hakim ketua Jon Sarman Saragih saat membacakan amar putusan di PN Jakbar, Selasa (9/5/2023).

“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Teddy Minahasa dengan pidana penjara seumur hidup,” imbuhnya.

Teddy Minahasa dinyatakan bersalah melanggar Pasal 114 ayat 2 UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Hakim menyatakan tidak ada alasan pemaaf dan pembenar untuk Teddy. Hakim menyatakan Teddy terbukti terlibat menjual barang bukti sabu lebih dari 5 gram bersama Linda dan AKBP Dody Prawiranegara.

Hakim juga menyatakan Teddy terbukti mendapat keuntungan dari penjualan sabu tersebut senilai SGD 27.300 atau setara dengan Rp 300 juta. Hakim menolak seluruh pembelaan atau pleidoi Teddy Minahasa.

Hal memberatkan Teddy ialah tidak mengakui perbuatannya serta berbelit-belit dalam menyampaikan keterangan. Hakim juga menyatakan Teddy selaku polisi sebagai penegak hukum malah terlibat kasus narkoba.

“Perbuatan terdakwa telah merusak nama baik institusi Kepolisian Republik Indonesia,” ujar hakim.

Hal meringankan ialah Teddy belum pernah dihukum. Hakim juga mempertimbangkan pengabdian dan prestasi Teddy sebagai hal meringankan.

Dituntut Hukuman Mati

Irjen Teddy Minahasa diketahui telah menjalani sidang tuntutan. Jaksa meyakini Teddy bersalah dalam kasus tukar sabu barang bukti kasus narkoba dengan tawas.

“Menyatakan Terdakwa Teddy Minahasa Putra bin Haji Abu Bakar telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana,” kata jaksa saat membacakan tuntutan di PN Jakarta Barat, Kamis (30/3).

“Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa Teddy Minahasa Putra dengan pidana mati,” sambung jaksa.

Jaksa meyakini tidak ada hal pembenar dan pemaaf atas perbuatan Teddy. Jaksa meyakini Teddy bersalah melanggar Pasal 114 ayat 2 UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Jaksa meyakini Teddy merupakan pencetus awal penggelapan barang bukti sabu untuk dijual. Jaksa juga meyakini Teddy sebagai orang yang mengajak mantan Kapolres Bukittinggi AKBP Dody Prawiranegara untuk bekerja sama menukar sabu hingga menjualnya melalui Linda Pujiastuti.

Jaksa meyakini Dody telah menerima uang Rp 300 juta dari Linda dari hasil penjualan 1 kg sabu. Jaksa meyakini uang Rp 300 juta itu telah diterima oleh Teddy dalam mata uang asing.

Atas putusan itu, Irjen Teddy Minahasa mengajukan banding. “Barusan diminta banding terhadap putusan hakim yang meng-copy paste surat dakwaan jaksa,” kata pengacara Teddy, Hotman Paris Hutapea, usai sidang di PN Jakbar, Selasa (9/5/2023).

Teddy tampak mengepalkan tangan dan tersenyum seusai sidang. Teddy juga sempat melambaikan tangan sebelum dibawa kembali oleh jaksa ke dalam rutan.

Sementara itu, jaksa penuntut umum (JPU) mengaku masih pikir-pikir untuk mengajukan permohonan banding. “Masih pikir-pikir, ya,” kata Kajari Jakbar Iwan Ginting di PN Jakbar, Jalan Letjen S Parman, Jakbar, Selasa (9/5/2023).

Iwan menyebutkan dakwaan jaksa terhadap Teddy Minahasa telah terbukti. Iwan mengaku tak mempermasalahkan jika vonis terhadap Teddy tak seperti tuntutan jaksa.

“Kalau kita sih dari paling utama itu terbukti ya, artinya kan dakwaan kita terbukti, tuntutan kita, hakim ambil alih semua tadi dalam pertimbangannya, kepuasan kita sih di situ. kalau mengenai hukumannya kan masing-masing punya kewenangan ya. Hakim punya kewenangan, kita juga punya kewenangan,” ujarnya.

“Diambil alih semua. Pertimbangan hakim itu mengambil alih surat tuntutan kita. Makanya kita kepuasan kita di situ sih,” sambung Iwan.

Kejanggalan

Kuasa hukum Teddy Minahasa, Hotman Paris mengaku cukup kecewa atas putusan hakim terhadap kliennya. Hotman menilai ada fakta persidangan yang tidak menjadi pertimbangan hakim.

Salah satunya soal Teddy yang dikatakan memerintahkan Dody Perawiranegara untuk menarik sabu-sabu saat akan bertransaksi dengan Linda. Hal itu tidak jadi bahan pertimbangan hakim.

“Ada enggak tadi dengar pertimbangan hakim perintah dari Teddy tanggal 28 September agar musnahkan, tidak dipertimbangkan sama sekali. Harusnya dipertimbangkan, kalau pun ditolak harusnya dipertimbangkan,” ungkap Hotman di PN Jakarta Barat, Selasa (9/5).

Padahal, katanya, saat saksi ahli yang dihadirkan pada saat proses persidangan juga telah mengatakan terjadi suatu kesepakatan atau ‘meeting of mind’ antara Teddy dengan Dody.

“Sudah tidak ada lagi pertemuan kesepakatan untuk melakukan tindak pidana itu. Itu sama sekali tidak dipertimbangkan,” jelas dia.

Hotman juga menyinggung soal pernyataan majelis hakim yang menilai Teddy telah menikmati hasil penjualan sabu-sabu. Teddy telah menerima uang dalam bentuk dollar Singapura.

Hotman menegaskan, tidak ada saksi yang mampu membuktikan kalau jenderal bintang dua itu telah menerima uang hasil penjualan barang haram. Bahkan dalam bukti CCTV juga tidak memperlihatkan adanya bukti serah terima uang dalam mata uang asing.

Dia juga menyoroti bukti chat antara Teddy dengan terdakwa perkara narkoba lain tidak sepenuhnya ditampilkan alias dipenggal.

“Dan yang paling parah adalah yang sama sekali mengesampingkan pasal 5 dan 6 UU ITE yang mengatakan bahwa apabila ada bukti elektronik dan bukti elektronik seperti chat WA harus didigital forensik secara utuh. Ini tidak dipertimbangkan,” kecewanya Hotman. (det/mer/tit)

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Hukrim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Bupati Sidoarjo Berpeluang Jadi Tersangka Pemotongan Dana ASN

Bupati Sidoarjo …