Home Jawa Timur 01-Kediri Waspada Disintegrasi Bangsa di Kandangan

Waspada Disintegrasi Bangsa di Kandangan

11 min read
0
1
25

Kediri (MPN) – Wawasan Kebangsaan. Persatuan dan Kesatuan Bangsa akan dapat terganggu berbagai kejadian tak terduga terjadi di kalangan masyarakat, seperti tidak adanya komunikasi yang baik antar anggota dan kelompok masyarakat, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal itu kalau dibiarkan dan tidak diatasi sejak dini akan menimbulkan perpecahan dalam masyarakat dan disintegrasi Bangsa. “Fenomena Disintegrasi Bangsa itu harus kita waspadai, khususnya di wilayah Kandangan ini yang telah terkenal sebagai wilayah Pelangi atau wilayah berpancasila,” tandas Kapten Czi Roberto Hutabarat, Danramil 0809-15 Kandangan Kabupaten Kediri dalam Acara Sosialisasi Pembelajaran Paradigma Baru Berbasis Data di PKBM A Yani Desa Mlancu (16/10).

Sebagai Narasumber dalam acara itu, Roberto menjelaskan, Ancaman disintegrasi bangsa dapat dipicu oleh beberapa faktor. Pertama, Konflik Kenegaraan atau Sistem Pemerintahan. Ketidakpuasan pada Sistem Pemerintahan yang berasal dari luar, yang direfleksikan pada tindakan anarkis, bahkan untuk mengganti Dasar Negara Pancasila. Misalnya, PRRI, Permesta.

Kedua, Konflik Ideologi, dimana terjadinya berbagai kelompok yang tidak setuju dengan Ideologi Repuplik Indonesia, yang berusaha menggantinya dengan Ideologi lain, seperti PKI, DI/TII. Ketiga, adalah Konflik Kepentingan. Pihak tertentu yang merasa dirugikan dengan berdirinya Negara Republik Indonesia. Misalnya, dalam pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA), Penentuan Batas Wilayah, Kebijakan tertentu dan sebagainya. Contohnya, pemberontakan RMS.

Indonesia adalah Negara Besar dan multi etnis, agama dan eilayah yang luas. Terdiri dari 17.508 Pulau, 300 Etnis dengan 1340 suku bangsa, 719 Bahasa daerah, 5 Ras Utama, serta 6 Agama Besar. “Oleh karena itu Kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara adalah mulak diciptakan dan ditingkatkan dalam perbedaan untuk menjadi satu kesatuan yang kuat, Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu,” tutur Roberto.

Para Peserta didik PKBM A Yani sedang mengikuti Sosialisasi Pembelajaran Paradigma Baru Berbasis Data di PKBM A Yani 16 – 18 Oktober 2023. Salah satu nara sumbernya dalah Danramil Kandangan Kapten Czi Roberto Hutabarat.

Trilogi Kerukunan

Yang paling penting, tambahnya, dalam kehidupan beragama di Indonesia adalah menjaga Trilogi Kerukunan. Pertama, Kerukunan antar intern Umat Beragama. Hal ini meliputi, Kerukunan diantara aliran-aliran/paham atau mazhab-mazhab yang ada dalam suatu Umat atau Komunitas Agama. Kerukunan diantara Ormas-ormas keagamaan seperti dalam Islam NU, Muhamadiyah, PITI, LDII dan sebagainya, dalam Protestan terdapat GBI, Advent, Pantekosta, dalam Katholik ada Ortodoks dan Roma. Dalam intern masing-masing agama tersebut, terciptalah suatu kerukunan dan persatuan membentuk Kerukunan dalam wadah satu agama.

Kedua, Kerukunan Antar Umat Beragama. Kerukunan Antar Umat Beragama. Hal ini menyangkut kerukunan diantara pemeluk agama yang berbeda, yaitu diantara pemeluk Islam dengan pemeluk Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Budha, kepercayaan dan sebagainya. Bentuk nyata yang sudah dilakukan oleh para tokoh Agama hingga saat ini adalah Dialog antar Tokoh Agama, Deklarasi damaiantar tokoh Agama dalam rangka pemilu,phiba, even kenegaraan dan lain-lain, kemudian mengajarkan kepada Umat tentang agama yang selalu membewa kedamaian dan ketentraman.

Ketiga, Kerukunan Antar Umat Beragama dengan pemerintah. Keserasian dan keselarasan diantara para pemeluk agama dengan para pejabat pemerintah dimana saling memahami dan menghargai tugas masing-masing dalam rangka membengun masyarakat dan Bangsa Indonesia yang beragama.

Sedangkan tujuan kerukunan Umat Beragama adalah untuk meningkatkan iman dan taqwa masing-masing umat beragama, mewujudkan stabilitas nasional, mensukseskan pembangunan nasional, mempererat rasa persaudaraan.

Jaminan Negara pada kebebasan beragama. Pertama, salah satu tujuan pembentukan Negara Indonesia adalah untuk melindungi hak warga Negara dan memenuhi kepentingan seluruh rakyat, melindungi segenap Bangsa Indonesia, tanpa diskriminasi baik berdasarkan suku, bahasa maupun agama. Kedua, pasal 29 ayat 2 UUD 1945 bahwa Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu. Ketiga, Tugas Negara adalah untuk melindungi hak setiap warganya dalam memeluk agama dan beribadah.

Roberto juga menjelaskan bahwa dengan berbagai fenomena dan kondisi bangsa Indonesia, maka syarat mutlak dan tak bisa ditawar agar terciptanya kerukunan umat beragama adalah toleransi.

Camat Kandangan Elok Etika SSos, MM sebagai nara sumber di Acara Sosisalisasi Pembelajaran Paradigma Baru Berbasis Data PKBM A Yani 16-18 Oktober 2023
Wakapolsek Kandangan Iptu D Winarto memberi materi tentang Perundungan, Bulliying dan Pelecehan Seksual dalam Acara Sosialisasi Pembelajaran Paradigma Baru Berbasis Data bagi Peserta Didik PKBM A Yani pada 16-18 Oktober 2023

Penghambat

Disamping itu, menurut Danramil Kandangan, terdapat faktor penghambat dalam kerukunan umat beragama. Diantaranya, pendirian tempat ibadah harus melihat kondisi umat beragama geografi sosial budaya setempat, Aktivitas Keagamaan jangan sampai berbenturan dengan umat beragama lain dan masyarakat sekitar. Pernikahan Beda Agama rawan timbul konflik dari internal rumah tangga, membawa keluarga hingga merembet ke masyarakat dan menimbulkan kegaduhan. Penistaan agama, melecehkan/menodai ajaran agama, bisa dilakukan perorangan maupun kelompok. Perebutan kekuasaan atau konflik internal. Beda penafsiran kitab sucinya, ajaran beda dengan kelompok lain, fanatic/sempit yang dapat memicu konflik. Aliran sempalan, menyimpang dari suatu ajaran yang sudah diyakini kebenarannya oleh agama tertentu. Kurang kesadaran tentang pluralisme.

Oleh karena itu, sebagai Danramil, Roberto menggaris bawahi agar masyarakat Kandangan khususnya, selalu waspada untuk menjaga kerukunan umat menjelang tahun politik. Pertama, menjelang pemilu akan munculperbedaan pendapat di masyarakat yang sangat rawan menjadi pemicu perselisihan. Kedua, Waspadai informasi hoax, pastikan berasal dari sumber yang bisa dipertanggung jawabkan, terutama isu agama yang dibawa ke ranah politik praktis untuk mendulang suara. Ketiga, Jadilah pribadi yang mengkondusifkan, tidak malah menjadi provokator. Keempat, jangan jadikan tempat ibdah sebagai sarana kampanye. Kelima, Jika ada pelanggaran, jangan main hakim sendiri, atau melakukan provokasi, jangan ragu untuk melaporkan pada Bawaslu terdekat di wilayah masing-masing.

Danramil 0809-15 Kandangan Kapten Czi Roberto Hutabarat sedang memberi materi Wawasan Kebangsaan dalam Sosialisasi Pembelajaran Paradigma Baru Berbasis Data bagi Peserta Didik PKBM A Yani 16-18 Oktober 2023

Selain Danramil, sebagai nara sumber di Acara Sosialisasi Pembelajaran Paradigma Baru berbasis data di PKBM A Yani, pada 16-18 Oktober 2023 adalah Muspika dan Drs Suharmaji (Tutor/Penulis) tentang Wawasan kebangsaan, Tiono SPd, MPd (Kepala PKBM dan Tutor), Nur Tatik SE (Tutor), Moh Mahfud SH (Tutor).

Para Nara Sumber (Para Tutur PKBM A Yani, termasuk Drs Suharmaji dua dari kiri) di acara Sosialisasi Pembelajaran Paradigma Baru Berbasis Data PKBM A Yani 18 – 18 Oktober 2023.

Utamakan Persatuan dan kesatuan dalam setiap pengambilan keputusan dan tindakan. Utamakan saling menghargai dan menghormati, jangan merasa benar sendiri. Adakan komunikasi yang baik antar sesame. Dan jika toleransi antar umat beragama sudah terbentuk, maka akan tercipta persatuan, kesatuan Negara dan Bangsa Indonesia. Demikian pesan mendalam yang disampaikan Kapten Czi Roberto Hutabarat, Danramil 0809-15 Kandangan. – (Ajie) – 

Load More Related Articles
Load More By Aji Suharmaji
Load More In 01-Kediri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Berprestasi Berkesan dan Tak Terlupakan SDN Kandangan 1 Kabupaten Kediri

Acara Pelepasan Siswa-siswi kelas VI SDN Kandangan 1 Kediri (8/6) …