Home Jawa Timur Reog Cemandi, Salah Satu Kesenian Asal Sidoarjo Yang Harus Tetap Lestari

Reog Cemandi, Salah Satu Kesenian Asal Sidoarjo Yang Harus Tetap Lestari

4 min read
0
0
34

Di Jawa Timur, terdapat beberapa kesenian yang memakai nama reog, Reog Cemandi salah satunya.

Reog Cemandi berasal dari Sidoarjo, tepatnya dari Desa Cemandi di Kecamatan Sedati.

Berbeda dari Reog Ponorogo, Reog Cemandi tidak menghadirkan warok dan topengnya tidak dihiasi bulu merak.

Konon, kesenian tradisional ini dibuat pada masa penjajahan untuk menakuti Belanda yang hendak memasuki Desa Cemandi.

Kini, Reog Cemandi biasanya ditampilkan masyarakat Sidoarjo pada acara karnaval, pernikahan, peringatan hari besar Islam, Hari Kemerdekaan, serta Hari Jadi Sidoarjo.

Asal-Usul Reog Cemandi

Melansir laman Kemdikbud, kesenian Reog Cemandi sudah ada sejak 1922.

Pencipta Reog Cemandi adalah Dul Katimin, mantan santri di pesantren Tegalsari, Ponorogo, yang mempunyai pondok di kawasan Sidosermo, Surabaya.

Konon pada 1917, Dul Katimin yang telah menyelesaikan kegiatan pesantren, berjalan pulang ke Sidoarjo.

Ketika melewati Pagerwojo, Katimin bertemu para petani muda yang menabuh kendang sembari menunggu waktu salat ashar.

Karena para pemuda kurang paham tata cara salat, Katimin tinggal sementara untuk mengajarkan agama Islam kepada mereka.

Ternyata, pemuda tersebut pernah menjadi gemblak, pemuda yang dipilih menjadi ”simpanan” para warok, dalam kesenian Reog Ponorogo.

Setelah beberapa bulan di Pagerwojo, Katimin memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Sidoarjo.

Kali ini Katimin tidak sendiri, karena diikuti oleh para pemuda yang berkeinginan menemaninya.

Sesampainya di Desa Cemandi, Sidoarjo, Katimin dan para pemuda membuka lahan untuk dibangun surau.

Kebiasaan para pemuda yang tetap menabuh kendang serta menari-nari, digunakan oleh Katimin sebagai sarana dakwah Islam hingga banyak warga yang tertarik ke surau untuk salat berjemaah.

Tidak lama kemudian, Katimin mengetahui bahwa warga Cemandi dituntut untuk membayar pajak setelah panen. Ketika menarik pajak, Belanda mengirim tentara Oost Indische Leger atau OIL, yang tidak jarang menyiksa penduduk.

Katimin, yang mempunyai ide untuk mengusir para penarik pajak, menyuruh warga Cemandi mencari enam batang kayu nangka yang masing-masing berukuran 50 cm dan kayu randu dengan panjang satu telapak kaki orang dewasa. Kayu nangka tersebut dibuat kendang dan kayu randu digunakan untuk membuat topeng yang menyerupai wajah buto cakil dengan dua taring. Ketika utusan Belanda datang ke Desa Cemandi untuk menarik pajak, Katimin dan para pemuda dari Pagerwojo mementaskan kesenian barongan dan kendang. Tentara OIL yang datang pun ikut berjoget,dan disaat itulah mereka dihajar beramai-ramai hingga tidak berdaya. Setelah itu, mereka tidak lagi berani memungut pajak apalagi melakukan kekerasan kepada warga Desa Cemandi. (edw)

Load More Related Articles
Load More By edy
Load More In Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Lezatnya Klethek, Krupuk Khas Tulungagung

TULUNGAGUNG (MPN) – Salah satu buah tangan atau oleh-oleh yang wajib dibeli ketika b…