Home Jawa Timur 01-Kediri Kediri Jaya di Apel Hari Jadi Kabupaten Kediri ke 1220 Tahun 2024 di Kandangan

Kediri Jaya di Apel Hari Jadi Kabupaten Kediri ke 1220 Tahun 2024 di Kandangan

15 min read
0
0
42

Kediri (MPN)Jayati Kadhiri. Pelaksanaan puncak peringatan hari jadi Kabupaten Kediri ke-1220 tahun 2024, puncaknya ditandai dengan apel dengan upacara serentak di semua wilayah, termasuk di Kandangan Kediri. “Hal ini juga menjadi momentum untuk selalu bersatu, bergotong-royong, saling menghormati untuk hidup rukun dan damai dalam keberagaman, demi kemajuan masyarakat Kabupaten Kediri Jayati Kadhiri dan Bangsa Indonesia,”tutur Camat Kandangan Nursaid SE, yang menggarisbawahi pesan Bupati Kediri H Hanindhito Himawan Pramana, SH, dalam apel Hari jadi Kabupaten Kediri ke-1220 di Halaman Pendopo Kecamatan Kandangan, senin pagi (25/3).

Menurut Nursaid, yang membaca naskah pidato Bupati, mengatakan bahwa pada HUT kali ini mengusung tema Kedhiri Parartha Jayati yang bermakna Kediri Sejahtera dan Mulia. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut ,tentu perlu upaya kerja keras bagi seluruh rakyat masyarakat Kabupaten Kediri. Disamping itu, melalui kegiatan Upacara Hari Jadi ke-1220 tahun 2024 ini yang diikuti oleh bergai Instansi dan komponen masyarkat, menunjukkan bahwa kebersamaan, toleransi serta menghormati dan menghargai anatara berbagai pihak dan bersinergi adalah modal utama untuk memajukan masyarakat di Kabupaten Kediri.

Forkompimca Kandangan Camat Nursaid SE, Danramil Kapten Czi Roberto Hutabarat Kapolsek AKP Wahyu Hariadi SH beserta para jajarannya, selalu bersinergi di Kandangan untuk memajukan Kabupaten Kediri yang Jaya dan sejahtera (25/3)

Terkait itu semua, kini Pemerintah Kecamatan Kandangan juga tengah berupaya maksimal dalam melayani masyarakat dengan baik. “Bila pada hari senin hingga jumat, pelayanan masyarakat di kantor kecamatan harus melalui Kantor Desa dulu, maka khusus di hari sabtu, diperbolehkan langsung ke Kantor Kecamatan, dan masyarakat akan dilayani secara maksimal,” kata Nursaid. Hal ini dimaksudkan agar pelaksanaan pelayanan masyarakat dapat dilaksanakan secara berdaya guna, cepat dan efektif.

Apel Hari Jadi Kabupaten Kediri ini pesertanya menggunakan pakaian adat khas Kabupaten Kediri Jatim. Sebuah Identitas resmi kejayaan Kediri. Kegiatan Apel Hari Jadi Kabupaten Kediri ke 1220 tahun 2024 ini diikuti 250 peserta dari berbagai Instansi Pemerintah, swasta dan lembaga terkait se kecamatan Kandangan. Diantaranya, Forkompimca, Camat Nursaid SE (Inspektur Upacara), Danramil 0809/15 Kapten Czi Roberto Hutabarat beserta jajaran anggotanya, Kapolsek AKP Wahyu Hariadi SH beserta jajarannya, Para Kepala Sekolah, semua Kades se Kandangan, para Guru, para perangkat desa, FKUB Gus Ali Nasuchan SPd.H, Pendeta Kristen, Pengurus PHDI, serta berbagai lembaga masyarakat dan ormas di Kandangan.

Berbagai komponen Pemerintah, Instansi dan Lembaga di masyarakat guyup rukun demi memajukan Kabupaten Kediri (25 maret)
Par anggota Koramil 0809-15 Kandangan dan Polsek selalu aktif dan inivatif bertugas demi kemajuan Kabupaten Kediri menuju daerah yang sejahtera (2/3)

Histori Singkat Kediri

Dinukil dari situs resmi Kabupaten Kediri, menerangkan terdapat berbagai alasan ditetapkannya tanggal 25 maret 804 Masehi menjadi Hari Jadi Kediri. Namun, sebelum itu perlu diketahui bahwa, pertama, menurut Kamus Jawa Kuno Wojo Wasito, “Kedi” berarti Orang Kebiri Bidan atau Dukun. Di dalam lakon Wayang, Sang Arjuno, yang pernah menyamar Guru Tari di Negara Wirata, bernama “Kediwrakantolo”. Bila dihubungkan dengan nama tokoh Dewi Kilisuci yang bertapa di Gua Selomangleng, “Kedi” berarti Suci atau Wadad.

Disamping itu, kata Kediri berasal dari kata “DIRI” yang berarti Adeg, Angdhiri, menghadiri atau menjadi Raja (bahasa Jawa Jumenengan). Untuk itu dapat kita baca pada prasasti “WANUA” tahun 830 saka, yang diantaranya berbunyi :: “Ing Saka 706 cetra nasa danami sakla pa ka sa wara, angdhiri rake panaraban“, artinya pada tahun saka 706 atau 734 Masehi, bertahta Raja Pake Panaraban.

Kedua, nama Kediri banyak terdapat pada kesusatraan Kuno yang berbahasa Jawa Kuno  seperti :Kitab Samaradana, Pararaton, Negara Kertagama dan Kitab Calon Arang. Demikian pula pada beberapa prasasti yang menyebutkan nama Kediri seperti Prasasti Ceber, berangka tahun 1109 saka yang terletak di Desa Ceker, sekarang Desa Sukoanyar Kecamatan Mojo.

Dalam prasasti ini menyebutkan, karena penduduk Ceker berjasa kepada Raja, maka mereka memperoleh hadiah, “Tanah Perdikan“. Dalam prasasti itu tertulis “Sri Maharaja Masuk Ri Siminaninaring Bhuwi Kadiri” artinya raja telah kembali kesimanya, atau harapannya di Bhumi Kadiri.Prasasti Kamulan di Desa Kamulan Kabupaten Trenggalek yang berangkat tahun 1116 saka, tepatnya menurut Damais tanggal 31 Agustus 1194. Pada prasasti itu juga menyebutkan nama, Kediri, yang diserang oleh raja dari kerajaan sebelah timur.”Aka ni satru wadwa kala sangke purnowo“, sehingga raja meninggalkan istananya di Katangkatang (“tatkala nin kentar sangke kadetwan ring katang-katang deni nkir malr yatik kaprabon sri maharaja siniwi ring bhumi kadiri“).

Menurut  Drs. MM Sukarton Kartoatmojo menyebutkan bahwa “Hari Jadi Kediri” muncul pertama kalinya bersumber dari tiga buah prasasti Harinjing A-B-C, namun pendapat beliau, nama Kadiri yang paling tepat dimuculkan pada ketiga prasasti.

Berpakaian khas Kediri, para Peserta upacara dari berbagai Instansi pemerintah dan swasta serta lembaga organisasi masyarakat selalu bersinergi demi Kediri Jaya (2/3)

Alasannya Prasasti Harinjing A tanggal 25 Maret 804 masehi, dinilai usianya lebih tua dari pada kedua prasasti B dan C, yakni tanggal 19 September 921 dan tanggal 7 Juni 1015 Masehi.Dilihat dari ketiga tanggal tersebut, menyebutkan nama Kediri ditetapkan tanggal 25 Maret 804 M. Tatkala Bagawantabhari memperoleh anugerah tanah perdikan dari Raja Rake Layang Dyah Tulodong yang tertulis di ketiga prasasti Harinjing.Nama Kediri semula kecil lalu berkembang menjadi nama Kerajaan Panjalu yang besar dan sejarahnya terkenal hingga sekarang.Selanjutnya ditetapkan surat Keputusan Bupati Kepada Derah Tingkat II Kediri tanggal 22 Januari 1985 nomor 82 tahun 1985 tentang hari jadi Kediri, yang pasal 1 berbunyi ” Tanggal 25 Maret 804 Masehi ditetapkan menjadi Hari Jadi Kediri.

Tangan Bhagawanta Bari 

Kediri mungkin tak tercatat di panggung sejarah, andai kata Bagawanta Bhari, seorang tokoh spiritual dari belahan Desa Culanggi, tidak mendapatkan penghargaan dari Sri Maharaja Rake Layang Dyah Tuladong. Pada waktu itu Bagawanta Bhari, seperti memperoleh penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha, kalau hal itu terjadi sekarang ini. Atau mungkin seperti penghargaan Kalpataru sebagai Penyelamat Lingkungan. Kala itu, begitu gigihnya upaya tokoh spiritual ini meyelamatkan lingkungan dari amukan banjir tahunan yang mengancam daerahnya.

Ketekunan tanpa pamprih inilah, Bhagawata Bari dianggap sebagai panutan, sekaligus idola masyarakat. Ketika itu, tidak ada istilah Parasamya atau Kalpataru, namun bagi masyarakat yang partisipatif memakmurkan negara akan mendapat “Ganjaran” seperti Bagawanta Bhari, yang juga memperoleh gelar kehormatan “Wanuta Rama” (ayah yang terhormat atau Kepala Desa) dan tidak dikenakan berbagai macam pajak (Mangilaladrbyahaji) di daerah yang dikuasai Bagawanta Bhari, seperti Culanggi dan Kawasan Kabikuannya.  Sementara itu daerah seperti wilayah Waruk Sambung dan Wilang, hanya dikenakan “I mas Suwarna” kepada Sri Maharaja setiap bulan “Kesanga” (Centra). Pembebasan atas pajak itu antara lain berupa “Kring Padammaduy” (Iuran Pemadam Kebakaran), “Tapahaji erhaji” (Iuran yang berkaitan dengan air), “Tuhan Tuha dagang” (Kepala perdagangan), “Tuha hujamman” (Ketua Kelompok masyarakat), “Manghuri” (Pujangga Kraton), “Pakayungan Pakalangkang” (Iuran lumbung padi), “Pamanikan” (Iuran manik-manik, permata) dan masih banyak pajak lainnya.Kala itu juga belum ada piagam penghargaan untuknya. maka sebagai peringatan atas jasanya itu lalu dibuat prasasti sebagai “Pngeleng-eleng” (Peringatan). Prasasti itu diberi nama “HARINJING” B” yang bertahun Masehi 19 September 921 Masehi. Dan disebutlah “Selamat tahun saka telah lampau 843, bulan Asuji, tanggal lima belas paro terang, paringkelan Haryang, Umanis (legi). Budhawara (Hari Rabo), Naksatra (bintang) Uttara Bhadrawada, dewata ahnibudhana, yoga wrsa.

Menurut penelitian dari para ahli lembaga Javanologi, Drs. M.M. Soekarton Kartoadmodjo, Kediri lahir pada Maret 804 Masehi. Sekitar tahun itulah, Kediri mulai disebut-sebut sebagai nama tempat maupun negara. Belum ada sumber resmi seperti prasasti maupun dokumen tertulis lainnya, yang dapat menyebutkan, kapan sebenarnya Kediri ini benar-benar menjadi pusat dari sebuah Pemerintahan maupun sebagai mana tempat. Dari prasasti yang diketemukan kala itu, masih belum ada pemisah wilayah administratif seperti sekarang ini. Yaitu adanya Kabupaten dan Kodya Kediri, sehingga peringatan Hari Jadi Kediri yang sekarang ini masih merupakan milik dua wilayah dengan dua kepala wilayah pula.

Seperti dilansir dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Kediri, bahwa menurut para ahli, baik Kadiri maupun Kediri sama-sama berasal dari bahasa Sansekerta, dalam etimologi “Kadiri” disebut sebagai “Kedi” yang artinya “Mandul“, tidak berdatang bulan (aprodit). Dalam bahasa Jawa Kuno, “Kedi” juga mempunyai arti “Dikebiri” atau dukun.

Menurut Drs. M.M. Soekarton Kartoadmodjo, nama Kediri tidak ada kaitannya dengan “Kedi” maupun tokok “Rara Kilisuci“. Namun berasal dari kata “diri” yang berarti “adeg” (berdiri) yang mendapat awalan “Ka” yang dalam bahasa Jawa Kuno berarti “Menjadi Raja”.Kediri juga dapat berarti mandiri atau berdiri tegak, berkepribadian atau berswasembada. Jadi pendapat yang mengkaitkan Kediri dengan perempuan, apalagi dengan Kedi kurang beralasan. Menurut Drs. Soepomo Poejo Soedarmo, dalam kamus Melayu, kata “Kediri” dan “Kendiri” sering menggantikan kata sendiri.Perubahan pengucapan “Kadiri” menjadi “Kediri” menurut Drs. Soepomo paling tidak ada dua gejala. Yang pertama, gejala usia tua dan gejala informalisasi. Hal ini berdasarkan pada kebiasaan dalam rumpun bahasa Austronesia sebelah barat, dimana perubahan seperti tadi sering terjadi.

Para Ibu Persit dan Bhayangkari, bersama Muspika Kandangan juga selalu tampil di depan demi memajukan wilayah Kabupaten Kediri, khususnya Kandangan (25/3)

Dan seiring perkembangan jaman, di era modern saat ini, kini Kediri berbenah dan berusaha menjadi Kota Metropolitan, yang sarat dengan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan. Hal itu,ditandai dengan pembangunan pendidikan, perekonomian,pariwisata dan yang terakhir tengah diseleseikan Bandara Udara Kediri di Tecamatan Tarokan dan tahap penyelesaian pembangunan jalan tol menghubungkan wilayah Kediri Nganjuk dan Tulungagung. Begitu impresif. Selamat Hari Jadi Kabupaten Kediri ke-1220 tahun 2024. Kediri makin tinggi. – (Ajie) –  

Load More Related Articles
Load More By Aji Suharmaji
Load More In 01-Kediri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Peduli Bersinergi SDN Kandangan 1 Bagi Takjil Untuk Masyarakat, Pengguna Jalan dan Bukber

Kediri (MPN) – Bermakna Sinergi. Kegiatan sosial kemanusiaan dilaksanakan SDN Kandan…