Home Jawa Timur Suci Kasih Sesama dan Toleransi dalam Dharma Shanti se Jatim di Chandra Wilwatikta Pandaan Pasuruan

Suci Kasih Sesama dan Toleransi dalam Dharma Shanti se Jatim di Chandra Wilwatikta Pandaan Pasuruan

30 min read
0
2
31

Kediri (MPN) – Suci Bersinergi. Bernuansa suci dalam inti acara Dharma Shanti tahun 2024 ini, namun juga terus bersinergi antar umat se dharma dan toleransi tinggi antar umat beragama, sesuai temanya Sat Cit Ananda untuk Indonesia Jaya. “Hal ini sangat berkontribusi dalam memajukan Indonesia dan Jawa Timur, menuju masa depan yang lebih baik,” tandas Plh Gubernur Jatim  Dr. Bobby Soemarsono SH, MSi, di Acara Dharma Shanti 2024 di Amphi Theater, Chandra Wilwatikta, Pandaan Pasuruan, minggu malam (19/5).

Keberagaman di Jawa Timur, tidak hanya dari sisi etnis dan budaya, tetapi juga sisi agama. Sehingga, ini menjadi suatu anugerah bagi Bangsa Indonesia, dan menjadi pendorong kemajuan masyarakat Jawa Timur. “Untuk itu, kami atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Timur, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh umat beragama, khususnya umat Hindu, yang telah berkontribusi cukup besar di tengah keberagaman itu untuk membangun masyarakat Jawa Timur, demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat  Jawa Timur,” ujarnya.

Selain itu, tambahnya, selain TNI-POLRI juga seluruh elemen masyarakat, khususnya juga umat Hindu se Jatim, telah berpartisipasi aktif turut menjaga kondusivitas wilayah serta mensukseskan gawe Negara, gawe nasional, gawe bangsa yaitu Pileg dan Pilres yang baru lalu. “Bahkan kami juga berharap agar sinergitas antara seluruh pemerintah, TNI-POLRI dan semua eleman masyarakat dapat terus ditingkatkan untuk mensukseskan kegiatan Pilkada serentak se Jawa Timur pada November 2024 mendatang,” pintanya serius.

Plh Gubernur Jatim Dr Bobby Soemarsono SH, MSi, dalam pidatonya di acara Dharma Shanti se Jatim di Pandaan (19/5)
Plh Gubernur Jatim Dr Bobby Sumarsono SH, MSi bersama para pejabat Forkompimprov Jatim (19/5).

Bobby Soemarsono juga berpesan, khususnya ke seluruh umat hindu, agar terus memberikan kontribusi terbaik untuk mendukung program-program pemprov demi mensejahterakan masyarakat jawa Timur saat ini dan di masa depan. “Kita harus bersama-sama dan bersinergi, mengangkat derajat masyarakat Jawa Timur di dalam suatu wadah Pancasila,” tandasnya. Maka itu, kerukunan dan harmonisasi adalah kata kunci agar seluruh program pembangunan ini bisa berjalan dengan baik dan lancar menuju Indonesia emas di Tahun 2045.

Acara Dharma Shanti dlam rangka Hari Suci Nyepi tahun 1946 Caka ini dihadiri Forkompimprov Jatim, yaitu PLH Gubernur Dr Bobby Soemarsono SH, MSi, Plt kaKemenag Jatim Drs Imron Rosyadi M.Ei, Ketua DPRD Jatim Kusnadi SH, MHum, Pangdan V Brawijaya, Kapolda Jtim, Kajari, Pangarmatim Surabaya, Ketua PHDI Jatim selaku Ketua Panitia Ir I Gusti Putu Raka Athama MMT, Kolonel (TNI-AL) I Made Jiwa Astika dan Juiono (Waka PHDI Jatim), para Undangan Forkompimda Kabupaten Pasuruan  Para pengurus PHDI dan WHDI se Jatim, serta para Umat se Dharma dari kabupaten Kota se Jawa Timur.

Penampilan Tari Reog Ponorogo dari PHDI Kabupaten Nganjuk (19/5).
Meriah dan bermakna Sendratari diperagakan para penari dari generasi muda Hindu dari Kabupaten Pasuruan (19/5)

Kegiatan yang diharidiri 10 ribu umat Hindu se Jatim ini, dilaksanakan pada minggu siang hingga malam. Dimeriahkan berbagai atraksi seni kearifan lokal dari berbagai daerah se luruh Jawa Timur. Diantaranya, sendratari dan Tari Gambyong pangkur Kolosal dari Kabupaten Pasuruan, Tari Reog Ponorogi dari Kabupaten Nganjuk, Tari Bedhayan Seranti Jaya dari Kabupaten Lumajang, Tari Jawa Timuran dari Kabupaten Malang, Tari Tradisional Tengger, Tari Tradisional dari Kabupaten Blitar, Tari dariKabupaten Gresik serta tampilan Baca Sloka oleh Niluh Intan Permatasari dan Ni Made (Juara 1 UDG Jatim) dari Surabaya. Sedangkan puncak seremonial acara Dharma Shanti ini adalah Dharma Wacana yang diisi oleh Ida Panditha Mpu Jaya Acharya Nanda dari Bali.

Sat Cit Ananda Swarupa

Acara Dharma Shantai ini meupakan penutup kegiatan dalam rangkaian hari raya dan hari suci Nyepi pada tahun 2024.  Menurut Ida Panditha Mpu Jaya Acharya Nanda, bahwa lebih tepat disebut Hari Suci Nyepi, karena kalau hari raya itu lebih banyak kontestasinya, sementara hari suci sarat dengan kontemplasinya. Karena ajaran agama Hindu itu memiliki 2 jalan yaitu ke dalam merupakan essoterik atau Dharma Niwerti atau Dharma kalepasan disebut Atma Lingga dalam teks-teks naskah Syiwa Shidantha. Kemudian jalan keluar adalah eksoterik, atau Dharma Kahuripan. atau Dharma Prawerti.

Ida Pandhita Mpu Jaya Acharya Nanda dalam Dharma Wacana di acara Dharma Shanti se Jatim di Pandaan (19/5).

Pelaksanaan kedua jalan ini harus dilakukan secara sinergi. Maka, kita dihadapkan pada 2 hari yang harus dilaksanakan yaitu hari raya dan hari suci. Hari raya lebih bersifat festival dan pesta, sementara hari suci lebih bersifat kontemplasi, renungan kedalam. “Who am I ? Sopo siro ingsun, itu yang penting.

Diakui Ida Panditha, tema Sat Cit Ananda ini sebenarnya sangat berat sekali. Terdapat 4 hal proses yang harus dipegang yaitu  harus diketahui, harus diakui, harus dihargai dan harus ditaati.

Dalam arti kamus, Sat Cit Ananda, sat artinya kebenaran, keabsolutan kemutlakan. Cit adalah Knowlegde penuh dengan pengetahuan. Ananda adalah penuh kebahagiaan atau full of bless. “Kita berada di kebenaran, penuh pengetahuan dan penuh kebahagiaan,” katanya. Secara terminologi, Sat Cit Ananda adalah pencapaian seseorang yang sudah pada tingkat tertinggi di dalam Yoga. Dilengkapi istilah, Sat Cit Ananda Swarupa. Swarupa artinya mewujud,

Secara terminologi, sat cit ananda adalah julukan atau Abhisekabrahma Ida Sang Widhi Wasa. Sebagai sebuah realitas yang bersifat mutlak atau absolut, tak terlukiskan, tak terpikirkan, dia merupakan “Causalitas” dimana semua berasal darinya, sumber dari segalanya,”Sangkan paraning dumadi”, tukasnya dalam istilah jawa.

Maka itu, pelaksanaan agama melalui 2 hari yaitu hari raya dilaksanakan dalam pesta-pesta galungan, dengan rangkaiannya.Hari suci, ditemukan pada bratha-bratha yang diterapkan yaitu pantangan-pantangan yang harus dilaksanakan, misalnya nyepi. Kemudian Syiwaratri, bagaimana ajarannya bersifat ke dalam. Hal ini sama dalam Budha, Hinayana lebih bersifat kedalam, maka Mahayana bersifat keluar. Kulit hadir untuk menjaga isi, tapi ketika isi matang, kulit adalah sarana menghantarkan orang untuk bisa menikmati isi. “Maka itu, marilah kita beragama tidak berhenti di kulit, tapi masuk ke isinya. Karena hanya tukang sepatu, yang tau kualitas dan jenis kulit,” tukas Ida berkias yang disambut tepuk tangan hadirin.

Ir I Gusti putu raka artama Ketua PHDI Jatim dalam acara Dharma Shanti se Jatim di Chandra Wilwatikta Pandaan (19/5)
Niluh intan permatasari, ni made juara 1 baca sloka di UDG Jatim dari Kota Surabaya usai lantunkan Sloka Veda (19/5)

Relevan dengan Tema

Dijelaskan Ida Panditha, bahwa siapa inti kita isi kita. Tat twam Asi sering diartikan saya adalah kamu, padahal arti sebenarnya adalah  ajaran kesamaan martabat manusia.

Karena keberadaan itu bersifat absolut, tidak akan bisa kita beri sebutan atau abhiseka yang pas, karena kemutlakan beliau. Maka Chandogya Upanishad mengatakan siapakah brahman itu, neti-neti, karena diabukan dalam jangkauan pikiran manusia, dia berada dalam beyond believe supreme being yang paling tinggi. Namun dalam kepentingan bhakti dan karma kita turunkan beliau di level personal God yang disebut Sadha Syiwa. Inilah yang kita jadikan obyek dalam setiap pemujaan kita adanya para dewa-para dewa ini. Para dewa pun sesungguhnya tidak kekal, nanti ketika mahapralaya, tugas para dewa habis, dia akan bersatu kembali Brahman, Atman, Aikyam atau Athman Brahman Aikyam, kita kembali kepadaNya. Itu poada akhir jaman.

Oleh sebab itu, katanya, Hari Raya Nyepi ini sangat relevan dengan tema, tapi sulit dilaksanakan, karena sesungguhnya sat cit ananda pada conditioning kemanusiaan itu harus melalui sebuah proses, tidak hadir begitu saja. Sesungguhnya sat cit ananda adalah sebuah output dari sebuat proses. Sat cit anada adalah kualitas dalam filsafat yaitu Aksiologi bagaimana manusia meng-upgrade dirinya untuk menjadi manusia Tuhan. Devided Man. Maka, dia harus membangun dirinya, spriritualnya, karena kita sebagai manusia adalah komposisi dari tiga komponen yaitu Maya, Atma, Nirwana. Tapi kita suka bermain di dunia maya, fatamorgana, ketidak kekalan. Sering ini menyesatkan, tapi bukan berarti kita antipasti dengan maya. Apa yang maya pada diri kia yaitu badan kita, pikiran kita di dalam teks-teks thatwa kita merupakan warisan dari merapi merbabu dari Jawa Tengah itu, sebab itu maya dalam teori disebut Maya Sirathatwa. Filosofi tentang maya, itu alam pikiran yang disebut Citta Budhi manah ahamkara, unsuryang membentuk watak, tubuh manusia.. Kemudian yang disebut Panca Maha Butha yaitu lima unsur pembentuk alam semesta dan seluruh isinya, seperti unsur padat, cair, cahaya, udara, dan ruang. Kelima unsur tersebut dikenal dengan sebutan pañca mahābhūta. 

Kolonel (TNI-AL) I Made Jiwa Astika dan Juliono yang keduanya Waka PHDI Jatim sebagai salah satu panitia Acara Dharma Shanti di Chandra Wilwatikta Pandaan (19/5).

Maka itu, untuk mewujud sampai output terjadi sat cit ananda swarupa, di dalam ajaran syiwa sidhanta disebut Sakala Niskala Tatwa, dalam proses kita berada di Sadha Syiwa Tatwa, maka yang utaba dibangun adalah kesadaran Sang Diri, Consestness, atau Tattwa dalam bahasa Agama Hindu, dan dalam Bahasa Jawa, Tutur artinya ikuti yang di atas. Ketika manusia mengikuti Tutur pada dirinya, ada proses sublimasi, transendensi pada dirinya.itu.

Disebut Manusia YadNya

Kita sadari bersama, ujar Ida Panditha, mengapa kita harus naik, mengapa kita harus mensublimasi, karena kita lahir ini semua turun, tidak ada lahir naik. Walaupun secara simbolik, lahir dari kepalanya dikatakan Brahman dialah brahmana, bagi yang lahir dari bahunya dia kesatrya, bagi yang lahir dari perut waisya, serta lahir dari kaki dinamakan Sudra, itu adalah bahasa kias saudara. Tidak ada alat reproduksi yang bisa berhubungan dengan kepala kita. Artinya orang yang lebih banyak berprofesi pada pikirannya dengan organ otaknya jadilah dia Brahmana.

Brah, berkah, berkhi meluap dan berkembang, maka ide gagasan itu tidak pernah berhenti untuk melakukan pengembangan diri. Dalam Buku “Human Psycology” dari seorang murid Mahesh Yoge bernama Profesor Nidder,mengatakan bahwa otak manusia identic dengan simbol Ganesha. Belalai itu harus ada, merupakan sungsum tulang belakang sebagai tangga naik dari Kundalini Yoga Ida Pingala Sushumna, dimana tulang ekor yang satsakralis bernama Dhurga Dewi. Dhurga Dewi berstana di ujung tulang ekor kita, sementara lubang dubur kita adalah rudradewa. Maka dengan demikian, ketika kita melakukan transendensi inilah proses titik balik kita kembali kepada asal kita untuk naik, karena kita lahir turun.

Suasana penuh semangat menggelora para Undangan pejabat dan umat Hindu se Jatim hadiri acara Dharma Shanti di Pandaan Pasuruan (19/5)
Para Mangku se Jatim selalu hikmat mengikuti acara Dharma Shanti se Jatim di Chandra Wilwatikta Pandaan Pasuruan (19/5)

Maka ketika kita lahir turun, disinilah ada istilah begitu dia lahir dari seorang Ibu, maka sudralah dia. “Saya yakin semua percaya bahwa semua yang lahir akan turun”. Tutur Ida. Jadi kita hadir sebagai sosok manusia dengan chasing material, kita sesungguhnya kelahiran sudra semua. Bahkan dikatakan Samshara, Maka ketika kita lahirlah  samshara yang didirikan di punarbhawa yaitu penderitaan. Punarbhawa adalah keyakinan bahwa semua makhluk hidup akan mengalami reinkarnasi.

Maka agar tidak samsara, kita melakukan Sarira Samskara. Sebagaimana sarira samskara terdiri dari dua kata yaitu Sarira dan Samskara. Sarira berarti badan-angga, samskara berarti pelaksanaan dan peralatan untuk pemujaan, yang mana samskara dapat berupa waya (sekala, lahir) yaitu dengan mempersembahkan sesajen, adyatmika (niskala, bathin) yaitu dengan melakukan puja dan mantera. “Dan ini kalau di bali pelaksanaannya sering disebut Manusia YadNya.

Jadi kita lahir sudra, tidak ada yang lahir di griya Husada kemudian menjadi brahman, tidak ada yang lahir menjadi kestryan karena kita lahir di puri raharja, Locus tidak menjadikan orang memiliki kualitas tapi ada upaya untuk membangunnya.

Dijelaskan Ida Panditha Mpu Jaya Acharya,  bahwa Osho Rajneesh filosofis India berkebangsaan Amerika, menyatakan bahwa manusia lahir  proseshewani dimulai.Mengapa, kareka ketika kita lahir tidak satupun diantara kita yang ingat. Kita menegaskan begitu proses kelahiran terjadi, ketika terjadi persenyawaan antara spirit yang suci, itu Athman itu sendiri yang merupakan percikan dari Brahma, bersenyawa dengan mattra, material. Mattra menjadi panca mahabutha.

Para umat Hindu se Jatim memenuhi tribun tempat duduk di Amphi Theater Chandra Wilwatikta Pandaan Pasuruan dalam Acara Dharma Shanti se Jatim (19/5).
Penampilan Tari Bedhayan Seranti Jaya dari Grup WHDI Kabupaten Lumajang (19/5)

Untuk menyucikan diri kita, maka penyucian pada sarira samskrara jauh lebih banyak dari ritual-ritual lain. Ada 12 sarira samskara yang di Bali disebut Manusia YadNya. Adalah penyucian dirimu ketika lahir dari Rahim ibumu, maka kewajiban itu dilakukan oleh ayah dan ibu atau orang tua dalam rangka mengupayakan anak yang utama.

Tuhanpun didalam menciptakan alam ini mengalami degradasi, telah dimasuki oleh Guna. Triguna sakti Sang Hyang Widhi. Makanya Tuhan yang telah mengalami degradasi kita personalkan, kita puja disebut dengan Saguna Brahman. Yaitu sifatnya dengan fungsinya masing-masing, dimana itu kesannya tercermin memuja banyak Dewa. Bukan banyak Tuhan, tapi julukan beliau dengan sifatnya fungsinya masing-masing. Sesungguhnya beliau satu.

Menurut Ida Panditha, untuk mempertahankan modal keberagaman kita selaku orang Hindu. Hindu adalah agama tertua. Sejaman dengan agama Mesir kuna, Mesopotamia, Babilonia. Bahkan kita masih bertahan, kita tidak tahu jelas deklarasi pendirian tentang Hindu itu sendiri., walaupun istilah Hindu itu sendiri baru diberikan pada abad-abad pertengahan Oleh saudara-saudara kita yang non Hindu. Itu kita sebuah Bangsa Persi yang menyebut  peradaban yang ada di lembah Hindush, disamping itu Nusantara memiliki kearifan lokal.

Maka disinilah mengalami gradasi dari lahir sebagai hewan seiring dengan tumbuh badannya dan berkembang mentalnya, manusia mulai memilih. Maka, proses insani dimulai. Ketika mulai dirinya menyadari sebagai manusia dimana organ otaknya mulai berfungsi, manusia mulai memilih, saat itulah proses insani dimulai , Manawatwa. Jadi ada gradasi dari danawatwa menjadi manawatwa, maka ajaran leluhur kita, menyebut sedulur papat limo pancer,

Grup Tari Bedhayan dari WHDI Kabupaten Lumajang (19/5).
Tari tradisional dari perwakilan WHDI Kabupaten Malang (19/5)

Begitu manusia, sebagai insani, dia bisa memilih. Bertanggung jawablah dengan pilihan kita. Maka kita lahir di Hindu, kita harus bertanggung jawab dengan kelahiran ini untuk melanjutkan siklus atau orbit kehinduan kita. Tidak ada jalan lain.

Terus bagaimana para dharmika. Kita agama yang tertua, agama yang mengayomi semua. Agama orang tua, ayah ibu.

Manusia tidak puas dengan memenuhi kebutuhan pikirannya, sebagai manusia, dia menyadari ada suatu hakekat yang memberikan zat hidup, walaupun dia belum bernama agama dalam sistem religi, pasti kita kembali. Kembali pada animisme, kita menggunakan teori Dabitt Taylor, bahwa ada ruh. Maka ketika ajaran tentang ruh ini menurut Debitt Taylor ada 3, ruh yang bergerak, ruh yang bisa diistanakan, dan ruh yang menempati pohon-pohon. Ada zat yang tidak keliahatan tapi memberikan kita kehidupan. Jangankan bicara tentang Tuhan Roh, melihat listrik pun tidak tahu, tapi tanda listrik kita ketahui dari nyala balon yang dicopkan ke stop kontak yang ada setrumnya. Maka segala sesuatu yang tidak kita lihat bukan berarti tidak ada.

Maka kesadaran ketika dia membangun, bahwa Dia adalah Tuhan Zat . Zat itulah konsep realita dewani dimulai. Dimulai kembalinya kesadaran Atma naik, konsep sublimasi yang disebut dengan Induksi dari khusus ke umum, deduksi dari umum ke khusus. Inilah Transendensi, maka hari raya nyepi, hari suci ini mengajak kita untuk Transendensi kembali pada jati diri kita. Secara personality, Manuhita kita dahului dengan pecaruan, ngring bethara melasti ke segara, dmana manuhita membangun kesadaran atman pada diri manusia mulai kita dari catur brata penyepian, puncaknya penanggal pisang itu disasi kedasa. Itu adalah satu prinsip yang tidak pernah dibahas secara total. Apati geni, bukan nyalakan api nyata, tapi apikama. Ketika kita lahir berasal dari api nafsu yaitu apikama. Kama, kroda loba adalah tiket password untuk menuju neraka. Ada tiga pintu gerbang masuk neraka,

Maka Dewa Syiwa pun kena panah Dewa Kamajaya Kamaratih untuk lahirnya Ganesha. Di beliau mengalami degradasi, untuk melahirkan badan sebagai sarana untuk berkarma. Saya sering menyatakan mulai badan, atman bisa berkarma. Melalui Atman badan ini bermakna. Maka badan bukanlah penjara, sehingga atman menjadi narapidana, mari kita jadikan badan ini istana, maka atman menjadi narayana. Sama dengan ibu-ibu harus siap jadi istana bagi bapak-bapak dalam sebuah keluarga, agar Bapak tidak mencari istana siap saji di luar.

“Kama Kroda Loba, maka demikian inilah gradasi kita naik dari sifat binatang kita. Bagaimana kita memulainya. Maka kita harus berkarma,” tutur Ida.

Reog Ponorogo dari Kontingen PHDI-WHDI Kabupaten Nganjuk (19/5)
Sejak siang para Umat Hindu se nJatim dengan setia mengikuti rangkaian acara Dharma Shanti di Chandra Wilwatikta Pandaan Pasuruan (19/5)

Sesungguhnya badan ini adalah istana bagi para dewa, sementara sesungguhnya jiwa yang memberikan hidup syiwa itu sendiri. Oleh sebab itu Kamaaghni ini mesti harus dikendalikan. Konsekuensinya, bila kita tidak bekerja berarti kita mengingkari hukum karma. Tuhan saja tidak bekerja sehari, sedetik, dunia ini akan hancur. Tapi kerja eksternal yang ditiadakan, kerja internal untuk merenung, untuk melakukan kontemplasi wajib dilakukan. Amatikarya eksternal, amatiluna eksternal, amatilelanguan eksternal, mulai ngrepindria, sampai akhirnya setelah kita melakukan Catur Brata, kita ketemu namanya Ngembak Geni. Diawali dengan pemadaman api, sekarang kita membuka HP, itulah mengandung maksud apakah kembali Kamageni, tidak, cenyana agni.

Sama halnya di Jateng, mulai candi pawon simbol api, mendut kasih sayang, naik ke Bumi sambara, Bara Baduhur atau Borobudur, sebagai budhi,Budha kesadaran consistness, maka ketika orang mencapai kesadaran distulai orang mencapai pelepasan yaitu Prambanan, Param Brahma. Itulah saling melengkapi. Maka di Jawa Timur dibangun syiwa budha tungel.

Astungkara, sukses acara Dharma Shanti Provinsi Jawa Timur diAmphi Theater Chandra Wilwatikta Pandaan Pasuruan (19/5)

Secara monumental, sastra artepak jawa tengah, sastra literasi jawa timur. Maka Jawa Timurlah lah proses perjalanan jawa tengah. Inilah proses perjalanan pilgrim kita, hijrah kita. Maka nyepi,kita diajak melakukan hijrah. Bukan hijrah secara eksternal, tapi hijrah di dalam diri. Jalan margasatwa jalan kebenaran,

Kita sering terjebak dengan kenikmatan duniawi, yang sesungguhnya promosi terakhir. Nikmat nyaman secara indriawi tapi menderita secara spiritual. Maka nyepi mengarahkan kita sedikitnya sebelum mencapai Sat Cit Ananda  swarupa, absolutism didalam sifat-sifat kedewataan kita, mari masuk di alam suarga jalan yang terang. “Mudah-mudahan kita kembali untuk mulat sarira, share understanding, share Goodness, No self distruction untuk merusak diri kita,” pesan Ida Panditha Mpu Jaya Acharya Nanda untuk seluruh umat se Dharma se Jatim. Om Santih, Santih, Santih,, Om….. –(Ajie)-

Load More Related Articles
Load More By Aji Suharmaji
Load More In Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Berprestasi Berkesan dan Tak Terlupakan SDN Kandangan 1 Kabupaten Kediri

Acara Pelepasan Siswa-siswi kelas VI SDN Kandangan 1 Kediri (8/6) …