Home Kolom Inilah Mbah Paidi, Manusia Tertua Asal Mojokerto yang Kini Berusia 115 Tahun

Inilah Mbah Paidi, Manusia Tertua Asal Mojokerto yang Kini Berusia 115 Tahun

3 min read
0
0
21

Mojokerto(MP)- Mbah Paidi ini usianya diperkirakan mencapai 115 tahun, meski berdasarkan data administrasi kependudukan atau pada kartu tanda penduduk (KTP), tanggal kelahirannya tertulis 1 Juli 1909.

Pria warga Desa Karang Tengah, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, bernama Paidi, diyakini menjadi manusia tertua di Kabupaten Mojokerto.

Namun, data tersebut diyakini tidak sesuai dengan tanggal kelahiran Mbah Paidi yang sebenarnya.Ditemui awak media, Mbah Paidi melakoni kegiatan rutinnya, yaitu sebagai Pawang hujan dalam bahasa jawa dikenal dengan sebutan tukang siwer di pelataran salah satu penduduk bernama Suja di desa Tangunan yang sedang mengadakan khitanan.

Menurut pengakuannya, Mbah Paidi sudah lahir saat proses penjajahan Belanda sampai Jepang yang sekitar tahun 1910 hingga 1945.Ditemui di rumahnyasalah satu warga Suja’ , Mbah Paidi yang kini berusia lebih dari 115 tahun masih cukup kuat untuk beraktivitas.

Ia juga masih memiliki pendengaran yang cukup baik. Tak hanya itu, pria yang beranak 8 dan cucu 26 dan cicit 83 ini ini tutur bahasanya juga masih fasih saat diajak berkomunikasi.

Kepada awak media ini, Mbah Paidi mengaku saat penjajahan Jepang pada tahun 1942 hingga tahun 1945, dirinya ikut berjuang. Meski saat itu masih remaja namun dirinya mengetahui Jepang merupakan negara kedua yang menjajah Indonesia setelah Belanda. “ Pada masa penjajahan Jepang, kebijakan yang diberikan Jepang untuk Indonesia sangat kejam dan membuat rakyat menderita,” ujarnya. Sabtu (29/06/2024).

Terpisah, salah satu perangkat dusun Tangunan, Kecamatan Puri, Wisnu Sawantah, menjelaskan bahwa Mbah Paidi tercatat sebagai warga tertua di desanya yang saat ini berusia di atas 115 tahun.

“Untuk usia sesungguhnya mesti lebih dari itu, karena waktu Belanda sampai Jepang, beliau sudah membantu berjuang,” tutur Wisnu.

Wisnu mengungkapkan bahwa Mbah Paidi hanya memiliki satu orang istri, namun saat ini sudah meninggal dan memilih tinggal bersama anaknya.”Untuk kebutuhan sehari-hari Mbak Paidi melakukan aktivitas sendiri, seperti Pawang hujan atau Siwer dari desa ke desa yang mempunyai hajat.” kata Polo Dusun, Wisnu Sawantah. (nay/dea)

Load More Related Articles
Load More By dicky ariesta
Load More In Kolom

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Kepala BPN Kabupaten Mojokerto Diduga Gantung Teken Pecah Bidang Tanah, ada Apa ?

Mojokerto (MP) – Progres penyelesaian pengurusan pecah bidang tanah di BPN Kabupaten…